Minggu, 15 Mei 2011

Mencabuli Anak Gadis Tetangga, Akhirnya Digerebek Warga

Diduga mencabuli anak tetangga, rumah Sumiyatun (45) di Desa Setail Kecamatan Genteng, Banyuwangi, rusak diamuk massa. Amuk massa ini terjadi akibat anak Sumiyatun berinisial BN (20) diduga berbuat asusila.

http://1.bp.blogspot.com/_37ihnAPECGY/TUQHlxV2PpI/AAAAAAAAABc/rmvEo-VUkn0/s1600/pencabulan_ilustrasi.jpg

Amuk massa ini terjadi Selasa (10/05/2011) malam. Sejumlah saksi mata mengatakan, sekitar 500 orang mendatangi rumah Sumiyatun. Setiba di lokasi, tanpa dikomando massa langsung melempari rumah Sumiyatun.

"Sekitar 500 orang yang menyerbu," jelas Hasan, warga sekitar lokasi kejadian kepada wartawan di lokasi, Rabu (11/05/2011).

Akibat dari amuk massa, sejumlah bagian bangunan rumah rusak. Mulai dari kaca jendela hingga atap genteng pecah berantakan. Pot-pot bunga di teras rumah juga menjadi sasaran amarah massa.

Diduga aksi massa ini adalah puncak kekesalan warga terhadap keluarga Sumiyatun. Sejauh ini, Sumiyatun maupun anak-anaknya kerap berulah. Mulai dari dugaan perzinahan hingga perbuatan tidak terpuji lainnya.

"Sumiyatun itu janda, ia sendiri pernah digerebek warga karena masukan laki-laki dirumahnya," beber Kepala Desa Setail, Ahmad Juni, kepada detiksurabaya.com, di kantornya.

Warga semakin marah, saat mengetahui BN, anak Sumiyatun diduga mencabuli AG (10), anak gadis tetangganya. Pencabulan itu dilakukan di dalam mobil yang ada di rumah Sumiyatun, Sabtu (7/5/2011).

Terlebih, BN tak kunjung ditahan polisi meski kasus itu secara resmi sudah dilaporkan. Karena tidak terima, akhirnya massa menyerbu rumah Sumiyatun. Saat amuk massa terjadi, Sumiyatun dan keluarganya diamankan ke Polsek Genteng.

Namun saat detiksurabaya.com mencoba mendatangi ke Polsek Genteng, yang bersangkutan sudah tidak ada. Seorang polisi dari unit Reskrim Polsek Genteng membantah jika Sumiyatun diamankan.

"Kata siapa dibawa kesini, ndak ada kok," bantah seorang polisi berpangkat Aiptu.

Di rumah Sumiyatun juga tak tampak garis polisi, yang biasa dipakai untuk mengamankan lokasi kejadian. Padahal situasi lokasi kejadian terasa panas dan memungkinkan adanya aksi massa susulan. [source]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar